Ngeblog dengan self hosting ternyata tidak sulit

>> Kamis, 25 Februari 2010

WordPressImage via Wikipedia

Hallo sahabat blogger semua, lama tidak update blog ini. Maaf lagi sibuk dengan mainan baru..hehe. Sesuai dengan judul diatas, saya sedang belajar ngeblog dengan self hosting ( hosting sendiri )tentunya dengan wordpress. Saya sedang ingin belajar sejarah Indonesia dengan segala isinya, budaya, alam dan kekayaan yang ada di Nusantara ini. Khatulistiwa, ini blog baru saya..hehe, artikel masih sepi.Saya bagi sedikit pengalaman yach..ternyata benar ngeblog dengan hosting sendiri tidaklah terlalu sulit. Saya ulang lagi ya..tidak terlalu sulit, apalagi kalau webhosting yang kita sewa memiliki fasilitas cPanel yang lengkap dan salah satunya fantastico. Dengan satu kali klik saja wordpress telah terinstall, dan anda bisa memulai untuk memposting artikel. Setelah itu tinggal mengoptimasi blog tersebut, nah berkaitan dengan masalah optimasi ternyata banyak yang belum saya tau. Di wordpress banyak tersedia plugins untuk mengoptimasi blog, salah satunya yang baru saya install adalah plugins SEO yang lebih dikenal dengan Plugin All In One Seo Pack. Nanti kalo sudah mahir akan saya share disini ya..

Kembali ke topik..memang sempat berpikir panjang untuk memutuskan ngeblog dengan wordpress, karena ketakutan saya waktu itu adalah kayaknya sulit banget. Harus upload sendiri file - file ke server hosting, itu saja sudah membuat nyali saya ciut. Apalagi sering saya liat banyak yang komentar di blog - blog berbasis wordpress waktu itu banyak yang bilang hanya orang hebat yang bisa..hehe..terlalu seh, tapi memang ada yang sampai komentar begitu..yang jelas bukan saya..hehe. Saya kenal blog sekitar setahun yang lalu, waktu itu di blogspot dan karena saya liat template nya ga ada yang bagus ( karena blm tau cara ganti template ) saya pindah ke wordpress.com. Di wordpress.com sempat lama, karena saya suka template nya bagus - bagus, dan artikel terus saya update. Tapi seiring berjalan saya jadi banyak tau tentang blog, di blogspot tenyata juga bisa diubah - ubah templatenya. Bahkan bisa di macem - macemin, bisa ditambahkan kode - kode script dan bisa dipasang iklan adsense. Lagi - lagi saya pindah ke blogspot dan akhirnya lahirlah blog " Sahabat Blogger " ini.

Nah bagi yang pernah ngeblog pakai wordpress.com jika ingin pindah jalur ke hosting sendiri gampang banget. Karena setelah proses instalasi selesai kita bisa posting seperti biasa. Dan bisa segera meresakan sensasi plugins - plugins yang siap membantu anda. Apalagi yang kita tau dari banyak orang bahwa wordpress sangat SEO friendly / ramah terhadap mesin pencari seperti Google, yahoo atau Bing. Kenapa bisa wordpress sangat SEO friendly, karena sifatnya yang open sources / terbuka. Jadi boleh siapa saja mengembangkan wordpress ini, makanya update wordpress sangat cepat tidak seperti blogspot / blogger karena tidak bersifat open sources. Wordpress saat ini sudah sampai update 2.9.2, saya juga sudah mengupdatenya...hehe. karena ternyata updatenya juga tidak terlalu susah.

Upload file ke server hosting ternyata juga jauh dari dugaan saya sebelumnya, banyak sekali tool yang kita bisa pakai. Bisa dengan file manager yang ada di cPanel atau pakai software FTP seperti filezilla. Untuk donwload anda tinggal ketikkan keyword "FTP Filezilla" di Google atau yang lainnya. Mengedit file php juga sangatlah mudah, serta mengupdate wordpress juga tidak terlalu sulit. Tinggal download di wordpress.org, setelah itu upload ke server hosting. Bagaimana, tertarik untuk pakai self hosting...biaya juga tidak terlalu mahal kok, punya saya hanya 180 rb per tahun. Dan kita juga bisa sesuaikan dengan kemampuan kita, lebih murah dari itu ada..lebih mahal juga ada..Oke..keep blogging :-)



Reblog this post [with Zemanta]
READ MORE - Ngeblog dengan self hosting ternyata tidak sulit

Sedihku

>> Senin, 15 Februari 2010

SEDIHKU

Tiba – tiba riuh suara terdengar…
Suara tepuk tangan yang tak penah aku dengar sebelumnya..
Aku berada disebuah kolam buatan, air lautnya pun buatan..
Aku menjadi sebuah objek tontonan, layaknya komedi putar..
Tak tau bulan depan aku berada dikota mana..
Tapi…aku mulai terbiasa dengan ini semua..

Tapi Aku sadar !!!
Ini bukan tempat lumba – lumba !!
Aku dipaksa untuk meloncat….meliuk – liuk diatas air, menyundul bola dan meloncati lingkaran api..
Sepintas aku terlihat senang…

Aku sedih…
Seandainya tempat aku bukan disni..
Aku bisa cari makan sendiri…tak perlu disuapin !!
Aku juga tak perlu multivitamin..
Aku tak butuh itu…yang aku butuhkan tempat luas, biarkan aku bebas dilaut lepas..
READ MORE - Sedihku

Pesona Bromo dan sebuah Kesederhanaan suku Tengger ( Part II )

>> Jumat, 12 Februari 2010

Semua terlihat ter engah – engah, begitupun dengan saya. Saya mencoba melihat sekeliling kawah Bromo, masih nampak gelap. Namun begitu sebagian dari rombongan tetap asyik berfoto ria. Saya merasakan keanehan, ternyata diatas Gunung Bromo tidak begitu dingin. Sangat jauh berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya. Atau karena saya ngos – ngosan, atau juga karena cuaca sedang gerimis..entahlah. Belum habis saya melamun tiba – tiba ada yang memanggil “ Pak Kem, sini ..kita foto – foto “. Ternyata acara inti sudah mulai, semua rombongan ikut foto dilengkapi dengan spanduk ukuran besar yang telah kami siapkan. Matahari pagi mulai nampak, walopun tidak begitu jelas karena tertutup awan. Itulah acara puncaknya, misi awalnya adalah mengambil foto team Caraka Yasa Surabaya di Gunung Bromo. Sebagai titik awal dibukanya route baru pengiriman barang ke jalur Bromo, yang diberi nama “ Tour d’Bromo “.

Acara inti telah selesai, saat nya bercengkrama dengan alam. Kami pun menuruni tangga kembali, sambil sesekali mengambil foto. Setelah sampai dibawah tangga, saya mencoba berpisah dengan rombongan. Saya mengambil jalur kanan, terlihat dari kejauhan nampak beberapa suku asli ( suku Tengger ) mulai berdatangan. Beberapa orang menawarkan tumpangan kuda, ada juga yang menawarkan kopi panas. Hmm..sepagi itu meraka sudah mulai beraktifitas, padahal kalau saya liat hari masih agak gelap. Berkalung kain sarung sepertinya sudah menjadi ciri khas warga suku Tengger. Dengan penampilan yang sangat sederhana namun begitu kesan ramah tetap terlihat.. “ Naik kuda mas, 25 ribu saja”..” enggak pak, terima kasih..pengen jalan aja “ sahut saya. “ Boleh ambil foto ya pak “ sembari saya foto bapak itu beserta kuda nya.

Pemandangan disebelah kanan makin membius saya, sampai akhirnya saya makin jauh meninggalkan rombongan. Deretan bukit – bukit dikejauhan nampak jelas dan sungguh mengagumkan. Saya menoleh kembali ke kanan, melihat kembali Gunung Bromo. Tampak gagah dan perkasa, terlihat lekukan – lekukan bukit nampak seperti otot – otot nya Ade Rai. Tekstur tanah nya terlihat keras dan berbatu, ditambah lagi mungkin karena sering terkena panas dari kawah. Sunggung pemandangan yang sangat eksotik, terbayang jika seandainya jadi fotografer dan membawa seorang model cantik dan berfoto diatas bebatuan di lereng Bromo…wuiih sungguh mantap sekali. Karena hanya membawa camera digital pocket, saya mencoba mengambil beberapa foto. Disebelah kiri terlihat bangunan Pura di tengah hamparan pasir. “ ceklik…ceklik “ bak seorang fotografer professional saya membabi buta mengambil foto..hehe


Hari mulai terang, sayup – sayup dari kejauhan terdengar dari pengeras suara tapi tak tahu jelas dari arah mana. Walaupun bahasanya saya kurang mengerti, namun kalau saya tangkap sepertinya ajakan kerja bakti. Mengajak membersihkan sampah diareal masing – masing. Saya menoleh kebelakang ternyata rombongan sudah terpisah – pisah, ada juga yang sudah jauh didepan saya. Ditengah lautan pasir saya berhenti dan melihat sekeliling, terbayang pengen kembali lagi ke sini suatu saat. Terlihat lagi segerombolan suku Tengger menunggang kuda nya, sama dengan yang saya liat tadi..penampilannya sungguh sangat sederhana tak terlihat sedikitpun memamerkan sesuatu. Saya pun mengambil fotonya kembali. “ Naik kuda mas, 10 rb saja “, sebenarnya seh murah karena sudah hampir dekat dengan tempat parker kami. Tapi saya masih pengen jalan sambil menikmati udara pagi

Tak sadar saya sudah berada di penajakan lagi menuju tempat parker, tak lama begitu rombongan dibelakang saya menyusul tapi semua menunggang kuda. “ Waah..curang neh “ teriak saya. Saya masih mencoba jalan, tapi sampai ditengah lelah sudah tak terbendung. Dari arah atas ada bapak – bapak membawa kuda, “ ayo mas naik kuda, masih jauh loh…10 rb saja “ bapak itu mencoba menawari saya “ Agh mahal sekali pak, 5 rb aja ya “ saya mencoba menawar “ udaah 10 rb aja, ayo naik sini “ dengan keramahannya itu saya pun luluh. “ Kaki kiri naikin dulu mas “ Ciaat…sekejap saya sudah berada di atas kuda “ loh..loh ..eeh ..eeh “ ternyata susah juga naik kuda, menyeimbangkan tubuh karena kuda nya sedikit melompat..” ga apa – apa mas, pegangan aja “ bapak itu mencoba menenangkan saya. Perlahan tapi pasti, kuda itu membawa saya sampai ke tempat parkir. Huh..ternyata lebih menegangkan naik kuda..hehe. Ketika saya datang semua rombongan sudah berkumpul di tempat parkir. Setelah selesai berkemas saya beserta rombongan pulang.

Didalam mobil saya mencoba membayangkan sesuatu, jika sebuah kesederhanaan ini tumbuh didaerah perkotaan seperti Surabaya, mungkin Surabaya tidak semacet dan semerawut sekarang ini. Bayangkan jika yang melintas dijalanan ini hanya orang – orang menunggang kuda, pastinya akan nampak asri, tidak ada deru mesin, tidak ada yang melaju kencang, tidak ada kecelakaan lalu lintas. Dan tentunya udara yang kita hirup pasti jauh lebih segar. Aaagh…tapi mana mungkin, entahlah..
READ MORE - Pesona Bromo dan sebuah Kesederhanaan suku Tengger ( Part II )

Tokek seharga 12 Miliar, benarkah ?

>> Selasa, 09 Februari 2010

Pagi ini saya sempat membaca salah satu postingan dari sahabat blogger. Postingan asli bisa dilihat disini. Sengaja saya posting disini supaya para blogger tidak termakan isu yang belum ada kebenarannya. Berikut ini adalah komentar saya di postingan tersebut. Saya jelaskan disini bahwa kesalahan bukan pada postingan dari sahabat blogger saya. Tetapi yang salah adalah orang yang menyebarkan isu - isu tersebut. Semoga bisa menjadi pencerahan bagi sahabat blogger semuanya. Btw..iseng - iseng mengetikkan keyword " tokek 12 miliar "..gilee, banyak banget pemberitaannya. Makin bersemangat untuk memposting komentar saya ini, karena ini saya alami di kantor ya dan teman saya hampir saja jadi korban dari isu itu ( sebenarnya sudah menjadi korban, capek keliling cari tokek ). Yang buntutnya sebenarnya tidak ada yang mau beli dengan harga segitu..sekali lagi itu hanya isu bohong belaka.

sependapat dengan mas ganda, foto nya ga asli…kayaknya seh boneka.

maaf ya mas..sedikit mengkritik, sebelum memposting alangkah baiknya di cari kebenaranya dulu. Biar berita2 yang disajikan oleh para narablog berbeda dengan koran – koran lokal ( pojok kota, warta kota, dll )..maaf ya mas, semoga kita bisa saling belajar…

Kritik = menyayangi, peduli, membangun.

saya juga ada crita soal ini..memang benar sempat santer tentang kabar tokek harga selangit ( dikantor saya sampe heboh ), tapi saya punya pendapat lain waktu itu. Dan saya ngomong ke salah satu teman yang berniat berburu tokek. ” sudahlah tidak usah diteruskan, itu hanya penipuan dengan kedok yang baru “. Maksudnya, tanya teman saya. ” Iya waktu saya di makassar dulu pernah om nya teman saya tertipu, ga tanggung2 tertipu sekitar 1,5 M”. ceritanya, ada orang keturunan arab datang ke rumahnya bawa sebuah foto barang antik. tapi memang om itu bisnis barang antik, jadi tidak ada kecurigaan waktu itu..malah sebuah peluang katanya. orang yang bawa foto itu ngomong kalo bisa dapat barang itu dia berani beli 2,5 M. Akhirnya dicarilah barang itu, telephone sana – sini..dapat lah petunjuk katanya ada barang nya di jkt. langsung dia ke jkt, di pesawat di duduk dengan seseorang yang belum dia kenal..bertegur sapa, dan sedikit ngobrol adalah hal yang biasa ketika kita naik pesawat. setelah turun orang yang duduk disebalhnya itu menawari tumpangan, disambut dengan baik lah tawaran itu. di tengah perjalanan tiba – tiba orang itu ngajak mampir kerumahnya..om itu ikut saja, malah dia diajak masuk rumah. di ruang tamu dia liat banyak barang antik, dasar suka juga barang antik dia pun melihat – lihat / makin penasaran..pemilik rumah malah mengijinkannya, ” di dalam sini masih banyak pak, ini semua koleksi istri saya”. akhirnya om itu masuk ke ruang satunya, kaget bukan kepalang..dia melihat barang antik yang difoto itu..om itu makin tertarik dan mencoba bertanya sama pemilik rumah, apakah barang antik tersebut di jual. ” waduh pak, itu tidak dijual..hanya koleksi istri saya “. Akhirnya taklama mereka berdua keluar rumah dan mengantar om tadi ke hotel. karena penasaran besok pagi nya om tadi datang lagi ke rumah itu, mencoba untuk membujuk untuk dijualnya…dan kebetulan dia bisa bertemu dengan istrinya. awalnya si istri tetap ngotot tidak menjual barang itu, tetapi karena desakan om tadi si istri merelakan untuk dijual. dan disepakati harganya adalah 1,5 M, om berfikir dia masih bisa untung 1M karena pemesan barang berani beli 2,5 M. Tak berlama – lama dilakukanlah transaksi itu, ditransferlah dana 1,5 M itu ke rek. si istri tadi. Setelah selesai om bergegas ke hotel dan kembali ke Makassar. Ditungguin lah orang keturunan arab tadi, sehari, dua hari, mencoba untuk menghubungi nya tetapi terus gagal. Mencoba untuk bersabar, ditunggu lagi seminggu, dua minggu berubah sebulan dua bulan. Karena penasaran dia kembali ke JKT, sebelum ke hotel dia mencoba mampir ke rumah orang yang punya barang itu ( bermaksud silaturahmi ). Lebih kaget lagi ternyata rumah itu sudah kosong dan sepertinya sudah tidak berpenghuni. Dan om itu baru menyadari bahwa dia telah tertipu..

Cerita berlanjut di kantor saya yang heboh tadi, ternyata teman saya itu nekad naik motor ke Blitar untuk memburu tokek itu. Informasi awal dia mendapat pesanan tokek dengan berat 4 kg, dan si pemesan berani beli 150 jt. Sepertinya keberuntungan berpihak pada teman saya, di berhasil menemukan tokek dengan berat persis 4 kg. Tokek itu berhasil ditemukan di daerah kediri ( busyettt berarti dia naik motor dari surabaya – Blitar – kediri ). Tapi untung nya dia tidak langsung beli, karena dia hanya penghubung / calo. Keesokan harinya diajaklah orang yang pesan / pembeli itu ke kediri. Setelah sampai ditempat tokek itu si calon pembeli berubah pikiran, katanya dia nyari toket dengan berat 3 kg…hehe chapek deeehhh.

Dengan penuh malu teman saya pun ngomong ke saya, ” aduuh mas, benar sampean ngomong “. Kenapa, tanya saya..” iya saya nggak mau lagi cari tokek lagi “..hehe..saya hanya senyum saja. Dan apa daya, berita dikantor sudah semakin heboh…akhirnya teman saya dapat julukan baru ” Juragan Tokek”.


Sekarang, terserah anda bagaimana menyikapinya. Semoga bisa bermanfaat bagi yang bersedia membacanya..terima kasih..

Reblog this post [with Zemanta]
READ MORE - Tokek seharga 12 Miliar, benarkah ?

Pesona Bromo dan sebuah Kesederhanaan suku Tengger

>> Minggu, 07 Februari 2010

Sekitar pukul 01:30 kami beserta rombongan telah sampai di pos pemberhentian di lereng Bromo. Ada acara apa ini kok saya sampai nyasar ke Bromo, iyalah sebuah perjalanan yang telah lama kami rencanakan dengan teman - teman kantor saya. Kebetulan juga ada misi kecil yang dibawa untuk memulai sebuah project baru. Hmm..Udara dingin mulai menusuk, sebuah kesempatan bagi para penjual menawarkan perlengkapan pengusir dingin seperti sarung tangan, syal dan topi/kumpluk ( ngerti maksudnya kan ). Akhirnya saya dan beberapa teman membeli sarung tangan, kami rasa tidak terlalu mahal karena hanya Lima ribu saja. Muraah bukan???



Setelah beberapa saat istirahat dipemberhentian itu kami langsung melanjutkan perjalanan mendaki Bromo. Tak lupa sebelum berangkat kami membuat lingkaran dan berdoa. Huu..gelap banget, lampu senter yang kami bawa tiba - tiba mati. Tak ayal semua langsung teriak, whaaa..aa... Pun begitu tak menyurutkan langkah kami, maju teruuuss. Sesekali saya berterikan menyemangati yang lain..( sok paling semangat )..hahaha. Gerimis hujan makin menambah seru pendakian kami, tak terasa lautan pasir telah kami lewati. Walopun sempat dua orang teman kami terpisah dari rombongan. Ini kali pertama saya ke Bromo, walopun sebenarnya saya sudah lama tinggal di Pasuruan.



Selepas lautan pasir, pendakian sebenarnya baru dimulai. Jalanan mulai menanjak dan tidak rata ( kalo rata ya jalan tol namanya ). Napas mulai ngos - ngosan, "istirahat dulu" teriak salah satu teman. Dengan sisa - sisa tenaga kami lanjutkan pendakian. Akhirnya kami telah sampai dibawah tangga menujut kawah Gunung Bromo. Saya mencoba melihat keatas, wuiih makin menanjak..kemiringan sekitar 45 derajat. "Ampuuun" teriak saya, " udah kita disini aja, lagian cuaca mendung..sunrise ga bakalan keliatan " sambung dari salah satu teman. " Ye..nanggung kalee" teriak big Boz..( die seh enak, naik kuda dari tadi ). Sebenarnya kita bisa sewa naik kuda, sebagai alternatif bagi yang tidak mau capek. Tapi kan ga ada seni nya kalo naik kuda, lawong mendaki gunung kok naik kuda..hehe Betul ga??



Akhirnya setelah tenaga terkumpul lagi, kami lanjutkan menyusuri tangga menuju kawah Gunung Bromo. Sekitar lima menit berjalan Lutut mulai bergetar, mata mulai berkunang - kunang, dan jantung makin berdetak kencang. " Jangan dipaksa, istirahat dulu" teriak saya. " Mana suaramuuu" teriak teman yang telah dulu sampai atas. Bener - bener jantung hampir copot, mencoba mengatur napas tapi sulit. Napas makin tersengal - sengal. Saya liat big Boz juga terengah - engah, terpaksa harus mendaki karena kuda hanya boleh sampai dibawah tangga " Tolongin guwa doong, kamu jahat..ngajakin ke gunung tapi gw ditinggal". Gimana mau nolongin, sedang saya sendiri juga sudah tak berdaya. Sedikit saya paksa, saya coba melajutkan pendakian sambil menarik Big Boz saya..hehe. Dan akhirnya kami pun sampai di puncak...Hore!!!! Alhamdulillah!!!!

Note : Cerita seru selanjutkan akan saya posting berikutnya.

Reblog this post [with Zemanta]
READ MORE - Pesona Bromo dan sebuah Kesederhanaan suku Tengger

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP