Pesona Bromo dan sebuah Kesederhanaan suku Tengger

>> Minggu, 07 Februari 2010

Sekitar pukul 01:30 kami beserta rombongan telah sampai di pos pemberhentian di lereng Bromo. Ada acara apa ini kok saya sampai nyasar ke Bromo, iyalah sebuah perjalanan yang telah lama kami rencanakan dengan teman - teman kantor saya. Kebetulan juga ada misi kecil yang dibawa untuk memulai sebuah project baru. Hmm..Udara dingin mulai menusuk, sebuah kesempatan bagi para penjual menawarkan perlengkapan pengusir dingin seperti sarung tangan, syal dan topi/kumpluk ( ngerti maksudnya kan ). Akhirnya saya dan beberapa teman membeli sarung tangan, kami rasa tidak terlalu mahal karena hanya Lima ribu saja. Muraah bukan???



Setelah beberapa saat istirahat dipemberhentian itu kami langsung melanjutkan perjalanan mendaki Bromo. Tak lupa sebelum berangkat kami membuat lingkaran dan berdoa. Huu..gelap banget, lampu senter yang kami bawa tiba - tiba mati. Tak ayal semua langsung teriak, whaaa..aa... Pun begitu tak menyurutkan langkah kami, maju teruuuss. Sesekali saya berterikan menyemangati yang lain..( sok paling semangat )..hahaha. Gerimis hujan makin menambah seru pendakian kami, tak terasa lautan pasir telah kami lewati. Walopun sempat dua orang teman kami terpisah dari rombongan. Ini kali pertama saya ke Bromo, walopun sebenarnya saya sudah lama tinggal di Pasuruan.



Selepas lautan pasir, pendakian sebenarnya baru dimulai. Jalanan mulai menanjak dan tidak rata ( kalo rata ya jalan tol namanya ). Napas mulai ngos - ngosan, "istirahat dulu" teriak salah satu teman. Dengan sisa - sisa tenaga kami lanjutkan pendakian. Akhirnya kami telah sampai dibawah tangga menujut kawah Gunung Bromo. Saya mencoba melihat keatas, wuiih makin menanjak..kemiringan sekitar 45 derajat. "Ampuuun" teriak saya, " udah kita disini aja, lagian cuaca mendung..sunrise ga bakalan keliatan " sambung dari salah satu teman. " Ye..nanggung kalee" teriak big Boz..( die seh enak, naik kuda dari tadi ). Sebenarnya kita bisa sewa naik kuda, sebagai alternatif bagi yang tidak mau capek. Tapi kan ga ada seni nya kalo naik kuda, lawong mendaki gunung kok naik kuda..hehe Betul ga??



Akhirnya setelah tenaga terkumpul lagi, kami lanjutkan menyusuri tangga menuju kawah Gunung Bromo. Sekitar lima menit berjalan Lutut mulai bergetar, mata mulai berkunang - kunang, dan jantung makin berdetak kencang. " Jangan dipaksa, istirahat dulu" teriak saya. " Mana suaramuuu" teriak teman yang telah dulu sampai atas. Bener - bener jantung hampir copot, mencoba mengatur napas tapi sulit. Napas makin tersengal - sengal. Saya liat big Boz juga terengah - engah, terpaksa harus mendaki karena kuda hanya boleh sampai dibawah tangga " Tolongin guwa doong, kamu jahat..ngajakin ke gunung tapi gw ditinggal". Gimana mau nolongin, sedang saya sendiri juga sudah tak berdaya. Sedikit saya paksa, saya coba melajutkan pendakian sambil menarik Big Boz saya..hehe. Dan akhirnya kami pun sampai di puncak...Hore!!!! Alhamdulillah!!!!

Note : Cerita seru selanjutkan akan saya posting berikutnya.

Reblog this post [with Zemanta]

2 komentar:

Mukhtaruddin 8 Februari 2010 17:48  

Waahhh...lihat gambarnya dan baca ceritanya jadi pingin naek Gunung nih,,kayaknya seru banget tuh...Sala Kenal Kang

Mr, Kem 9 Februari 2010 14:30  

@ Muktaruddin : betul sekali kang, seru banget..tunggu cerita selanjutnya ya..btw tks udah mau mampir. salamkenal jg

Poskan Komentar

Sahabat Blogger[dot]com membutuhkan dan sangat menghargai komentar dan saran anda untuk perbaikan blog ini. Terima kasih atas komentar dan saran nya. :-)

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP