
Sahabat blogger, baru saja saya blog walking di blog temen saya om Luxsman Kumara. Pada update terakhirnya membahas soal petani yang gaptek, karena penasaran saya pun membaca habis isi postingan tersebut. Dan diakhir saya baca postingan tersebut tak lupa saya tulis komentar. Berikut ini adalah potongan posting dari om Luxsman. Jika sahabat blogger mau lihat postingan secara utuh bisa lihat disini.
” Krisis pangan tidak hanya menjadi langganan negara-negara Afrika tetapi juga melanda sebagian besar negara di seluruh dunia. Indonesia juga tidak lepas dari masalah ini. Faktor utama penyebab krisis pangan antara lain banyaknya jumlah penduduk, rendahnya produksi panen dan kompetisi pangan.
Produksi rendah bukanlah fakta yang harus kita ragukan. Produksi beras nasional di tingkat petani masih tergolong rendah. Alasan utamanya karena petani kita “gaptek”. kenapa gaptek? karena pemerintah yang terlibat dalam dunia pertanian juga gaptek. betapa tidak gaptek, untuk memenuhi tanggung jawab memberi makan 230juta penduduk, pemerintah masih mengandalkan “cangkul”, how come? “
Saya pun tergelitik untuk menulis komentar, saking semangatnya jari – jari saya terus menari diatas keyboard. Jadi panjang deh..hehe
” Tidak adanya generasi muda yang ahli dalam bidang pertanian ini dan bahkan banyak sarjana pertanian yang hanya mampu menjadi peneliti saja, serta tidak ada yang bisa menjadi aktor atau pinoneer – pioneer dalam perkembangan pertanian di negeri ini..akhirnya perkembangan pertanian di negeri kita ini terkesan lamban. Saya rasa kalo dibilang gaptek seh enggak, kenapa ?. Saya sendiri anak dari seorang petani, bapak saya bajak sawah sekarang juga udah pakai traktor..dan kebanyakan petani di daerah Pasuruan tidak ada lagi yang pakai cangkul..setahun bisa panen beras tiga kali. Alasannya bukan pada kegaptekan para petani tetapi lebih kepada harga gabah pasca panen, ini yang menjadi momok bagi para petani. Pada saat mereka sedang kerja keras mengolah dan menanam padi, harga – harga pupuk dan obat naik gila – gilaan. Bahkan untuk pupuk sering terjadi kelangkaan. Dan setelah giliran panen tiba, harga gabah turun drastis. Ini yang harus dipecahkan oleh pemerintah kita, bagaimana mengatasi hal ini. Ini lah yang menyebabkan petani menjadi malas untuk bertani, dan peluang ini sering kali diambil oleh para developer – developer bagunan untuk membeli sawah untuk dibangun komplek – komplek perumahan. Ini yang terjadi dibelakang rumah orang tua saya di Pasuruan, puluhan hektar tanah dijadikan perumahan. Padahal potensi pertanian di sana sangat bagus. Akan tetapi karena hasil panen tidak bisa dijadikan jaminan, hasil panen pun hanya untuk bertahan hidup. Coba saja jika hasil panen bisa dijual dengan harga yang bagus, saya kira banyak di negeri ini yang ingin menjadi petani..termasuk saya. Karena hasil tidak sesuai dengan kerja keras yang dilakukan makanya saya ogah jadi petani…hehe
maaf om panjang comment nya…ini karena lebih kepada jeritan hati mewakili para petani di Pasuruan..”
Yach…saya rasa begitulah yang dirasakan petani sekarang ini. Bagaimana pendapat anda ?. Apakah petani didaerah anda masih kesulitan dengan ketersediaan pupuk, apakah harga gabah juga selalu turun jika panen tiba?
Related posts:
![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=3e8b1dad-6348-4a6e-8d56-8480f292dbda)


Pingback: Hargailan komentar singkat yang masuk |